Geschiedenis

Dalam perkembangan selanjutnya, sebutan Lilipoya ini mengalami perubahan ejaan. Hal ini antara lain disebabkan oleh karena ucapan bangsa-bangsa barat dan bahkan ucapan yang berubah dari generasi ke generasi sehingga terjadilah sebutan yang sekarang di kenal dengan ucapan ”Lilibooi”.

Sehubungan denga uraian di atas, jelaslah bahwa mereka yang member nama negeri Liliboy ini berasal dari pulau Seram. Bahasa yang dapat di pakai untuk nama itu adalah bahasa seram. Mereka itulah yang mula-mula tiba di negeri Liliboy ini dan memberikan nama negeri ini ‘Lilipoya’, penulisan nama itu menjadi Lilibooi.

Para leluhur (datuk-datuk) yang mendirikan negeri Lilibooi sebagaimana telah di sebutkan di muka, para leluhur(datuk-datuk)yang mendiami tempat dengan lingkungan yang di beri nama negeri Lilibooi ini berasal dari pulau Seram (nusa ina). Mereka adalah orang alifuru , yaitu suatu suku di antara suku-suku bangsa di pulau seram yang sangat buas dan kejam. Hal ini dapat di buktikan sekarang, karena dalam seni tari yang masih hidup di dalam masyarakat  Lilibooi, masih ada satu tarian yang di anggap terkenal dan keramat ialah tari adat yang di kenal dengan tari adat ’Cakalele Alifuru’.


Hal ini pula di dukung oleh keterangan yang di tulis oleh seorang ahli sejarah bangsa Belanda  bernama Dr. H. J. de GRAAF dalam bukunya ‘De Geschiedenis Van Ambon en de Zuid-Molukken’, dimana beliau berpatokan pada buku Hikayat  tanah Hitu yang menerangkan bahwa  penduduk yang mendiami negeri-negeri di jazirah LEIHITU pulau Ambon mula-mula adalah orang alifuru yang berasal dari pulau seram bagian barat. Mereka yang mula-mula tiba di tempat yang sekarang di sebut Lilibooi ini adalah 3 orang tua bersama keluarga-keluarganya. Ketiga orang tua ini disatukan dalam gelar “MUTELU” (3 orang tua yang mula-mula). Mereka memiliki keturunan di negeri Lilibooi dan memakai Fam Hetharion, Marlisa, dan Talahatu. Fam adalah istilah di Maluku yang dalam ethnologi disebut STAM. Jadi datuk-datuk dari Fam-Fam ini adalah 3 orang tua yang pada mulanya mendiami negeri Lilibooi.

Hingga saat ini istilah MUTELU digunakan untuk keturunan dari ke3 orang tua ini dan sering pula disebut “TUAN TANAH”. Peranan ke3 Fam ini Nampak jelas di dalam upacara-upacara adat yang biasa berlangsung di negeri Lilibooi.

Menurut keterangan yang diperoleh dari beberapa orang tua yang ada sekarang sebenarnya para datuk yang mula-mula tiba di negeri Lilibooi bukan hanya terdiri dari 3 orang saja. Tetapi semua berjumlah 4 orang . 1 di antaranya adalah seorang wanita, saudara perempuan mereka.ternyata kemudian saudara perempuan mereka ini berpindah ke negeri Soya.

Menurut cerita wanita itu dikenal di negeri Soya dengan sebutan “NENE LUHU”. Para datuk ini berasal dari pulau seram bagian barat, mereka mendarat di pesisir barat jazirah leihitu, di pulau Ambon. Dari pesisir pantai, mereka naik ke pegunungan dan berdiam di gunung Latua.

Yang mula-mula tiba di atas gunung Latua adalah Nenek moyang dari Fam Hetharion dan Marlisa. Dari beberapa cerita lisan di peroleh bahwa nenek moyang mereka itu yang seorang bernama Asbela dan yang lain bernama Marehe. Sangat disesalkan bahwa tidak dapat dipastikan siapa yang mempunyai keturunan Hetharion dan siapa yang mempunyai keturunan Marlisa.

Hal ini di sebabkan tidak diketahui suatu daftar silsilah keturunan dengan baik. Tetapi  Sebenarnya silsilah mereka ini sudah tercatat dengan baik dalam sebuah buku. Namun buku tersebut bersama dengan benda-benda  (berhala) lainnya sudah di tenggelamkan oleh pekabar injil JOSEPH KAM di teluk Ambon antara tanjung Alang dan tanjung Nusaniwe.

Kemudian menyula datang dari Seram nenek moyang dari Fam Talahatu. Nenek moyang ini mendarat di pesisir panatai, sebelah barat Jazirah Leihitu di tempat yang sekarang bernama TAPI yang artinya Kain. Dinamakan demikian karena di tempat ini kainnya tertinggal. Nenek moyang ini mendaki ke gunung dan disana ia berdiam sendiri kemudian dia ditemukan oleh nenek moyang dari Hethariaon dan Marlisa. Nenek moyang dari Talahatu ini di terima dan tinggal bersama-sama sebab mereka memiliki bahasa yang sama. Oleh karena mereka sama-sama berasal dari pulau Seram dengan demikian ke3 nenek moyang inilah yang kemudian hari diberi gelar MUTELU oleh para anak cucu mereka.